Get the latest articles, news and updates from us
Posted By: Admin
Salah satu startup di indonesia yaitu Dimbleweb yang bergerak dibidang layanan dan jasa pembuatan website, melihat fenomena yang menarik menilik sepak terjang STARTUP di Indonesia bagaikan melawati chasm atau jurang dan melewati fase yang berbeda-beda antara satu startup dengan startup yang lain. Pada umumnya setiap startup di masa-masa awal akan melakukan pengembangan produk mereka.
Ketika berada dalam fase tersebut, mereka sudah berhasil menggaet pengguna awal, namun kini mereka harus membuat terobosan untuk dapat mempertahankan para pengguna awal ini sekaligus mendapatkan hati pengguna mainstream. Para pelaku teknologi di Jakarta biasanya memakai istilah “meledak, berkembang pesat†ketika startup melewati situasi berada di tepi “jurang†tersebut — istilah lainnya mungkin “berkembang 10 kali lipatâ€.
Akan tetapi, apapun istilah yang dipakai untuk menamai fase tersebut, “jurang†ini merupakan hal yang berbahaya bagi startup karena mereka wajib untuk dapat melewatinya, yakni dengan menggaet banyak pengguna baru, jika tidak ingin mandek perkembangannya. Apabila gagal, startup harus pivot, atau terancam gulung tikar.
Banyak pihak yang siaga memantau setiap startup yang berhasil melewati “jurang†tersebut untuk kemudian mereka danai secara besar-besaran. Tapi, kini tidak sedikit VC yang mulai meninggalkan pola pendanaan yang sifatnya relatif “aman†ini, dan mulai mencari-cari startup muda yang menjanjikan untuk kemudian mereka genjot dengan dana untuk dapat melewati “jurang†tersebut.
Startup yang menjanjikan ini, jika dapat terus berkembang di Indonesia selama beberapa tahun ke depan, bukan tidak mungkin mereka bisa mencatat perolehan investasi sampai sembilan digit dollar. Berikut ini beberapa nama STARTUP yang tidak terlalu terkenal, tetapi memiliki
perkembangan yang pesat.
eFishery adalah penyedia solusi teknologi untuk pengelolaan kolam ikan komersil. Produk mereka adalah alat pemberi makan otomatis yang dapat dipasang di kolam dan bisa mendeteksi tingkat nafsu makan ikan-ikan untuk kemudian mengeluarkan makanan secara otomatis.
Sebagai startup yang bergerak di ranah Internet of Things untuk pengembang biakan ikan dan udang, eFishery mengklaim produknya sebagai solusi terhadap salah satu masalah terberat dalam bisnis ternak ikan. Menurut eFishery, proses pemberian makan para ikan mengambil sekitar 50 hingga 80 persen dari total biaya bisnis.
Perusahaan ini baru saja mendapatkan pendanaan pra-seri A dari Aqua-Spark, sebuah perusahaan investasi akuakultur dari Belanda, dan perusahaan pendanaan lokal Ideosource. Seperti beberapa startup yang telah disebutkan sebelumnya, eFishery juga merupakan konsep baru yang masih perlu membuktikan diri apakah bisa sukses di pasar umum.
Namun, melihat kompetisi yang masih minim di Asia Tenggara, eFishery sepertinya akan bisa wilayah ini dengan relatif nyaman. Co-founder dan CEO Gibran Chuzaefah Amsi El Farizy mengatakan bahwa startup-nya akan mengguncang pasar global yang bernilai milyaran dollar.
Fabelio adalah salah satu startup dalam daftar ini yang menarik perhatian kami sejak awal kemunculannya. Didirikan oleh entrepreneur lokal Christian Sutardi – yang sebelumnya pernah berafiliasi dengan Hill Ventures dan Rocket Internet – Fabelio mengincar pasar e-commerce lokal untuk komoditas furnitur.
500 startup dan investor lain telah mendukungnya pada bulan Juli lalu dengan memberikan pendanaan kepada Christian. Salah satu kompetitor Fabelio adalah Livaza yang juga telah mendapat pendanaan dari East Ventures 1. Livaza sendiri baru-baru ini mengalami pergantian kepemimpinan dengan masuknya Eddy Ng, pemain baru di dunia startup, yang menggantikan founder dan CEO lama William Budiharsono.
Satu hal yang pasti, pasar e-commerce untuk furnitur masih sangat terbuka di Indonesia. Pasar ini terlihat menggiurkan dengan berkembangnya kelas menengah yang mulai banyak mencari-cari meja kerja ataupun meja makan. Perusahaan riset ritel Conlumino memprediksikan bahwa pasar furnitur di Indonesia akan mencapai nilai $5.5 miliar (sekitar Rp67 triliun) di 2018. Investor tahap menengah dan akhir berpeluang bagus jika terus memantau Fabelio.
Toko online khusus busana muslim di Indonesia, HijUp, salah satunya memberikan pendanaan lebih dari $1 juta (sekitar Rp13,5 milyar).
HijUp menyediakan lebih dari 200 toko busana muslim, dan mengklaim bahwa dalam waktu dekat akan berekspansi secara global. Beberapa kompetitor mereka di antaranya adalah Hijabenka dan Sagina.
Busana muslim diprediksi akan mengambil 11,2 persen dari total belanja fashion global dalam tiga tahun ke depan menurut laporan dari Thompson Reuters dan Bidang Perdagangan dan Industri Dubai. Beberapa tahun terakhir ini, kaum muslim menghabiskan $224 miliar (sekitar Rp3.021 triliun) untuk urusan busana. Hal tersebut menjadikan HijUp sebagai peluang besar yang dinantikan para investor.
Kudo merupakan peluang menarik untuk ecommerce yang menjembatani antara dunia online dan offline di Indonesia. Pada awalnya, startup ini membangun beberapa mesin dan menempatkannya di mall dan area publik lainnya. Orang-orang dapat memakainya untuk membeli produk ecommerce.
Tujuan mereka adalah untuk mengenalkan e-commerce kepada siapapun yang belum pernah mencobanya. Kini, perusahaan ini mulai menggunakan pendekatan kemanusiaan, dengan mempekerjakan para agen yang bertugas memandu para pengguna yang baru pertama kali mencoba layanan ini .
Kudo memiliki sejumlah investor di Indonesia, ada beberapa VC dan juga Emtek Group – salah satu perusahaan media terbesar di Indonesia. Sektor e-commerce menjadi salah satu topik paling hangat di Asia Tenggara. Namun, untuk mencapai potensinya, startup perlu mengedukasi para calon penggunanya. Kudo sebenarnya secara ideal berposisi sebagai pembawa para pengguna kepada dunia belanja online. Akankah mereka berhasil?
Zeemi.tv adalah salah satu startup yang menyasar perilaku sosial orang Indonesia yang unik. Situs ini menyediakan layanan live-streaming yang ramah keluarga, dan memungkinkan semua orang dapat menampilkan karyanya secara online, mendapatkan hadiah atas karyanya, dan mengambil hadiah tersebut dalam bentuk uang tunai.
Founder dan CEO Tom Damek adalah mantan CEO Lazada Indonesia, yang mana tentunya sudah menguasai situasi di pasar lokal ini. Perusahaan pendanaan dari Jepang, DeNa, belum lama ini mendanai Zeemi sebesar $1 juta.
Startup ini berhasil menggaet lebih dari dua juta pengunjung di situsnya dalam beberapa bulan terakhir. Dibandingkan dengan kompetitor lokalnya yang didukung oleh Baidu, CliponYu, menggunakan video DJ seksi dan sudah memiliki lebih dari 26 juta pengunjung per bulan, Zeemi lebih memilih strategi perlahan tapi pasti. CliponYu jelas menyasar pengguna muda yang kesepian dan betah berjam-jam di depan komputer, sementara Zeemi berpotensi menggaet pasar yang lebih besar jika dikelola dengan benar.
Bridestory adalah startup yang sadar bahwa pernikahan adalah ladang bisnis yang kebal terhadap resesi. Orang-orang di Asia akan selalu menikah tanpa terlalu menghiraukan kondisi ekonomi yang ada.
Mungkin ini salah satu sebabnya Rocket Internet menyimpang dari kecenderungan mereka untuk selalu menciptakan startup-nya sendiri dan mulai memberikan pendanaan kepada Bridestory dalam ronde seri A mereka senilai tujuh digit pada Maret lalu.
Sejak saat itu, Bridestory terus tumbuh, kini mereka bekerja sama dengan MediaCorp dari Singapura untuk berekspansi ke negara Asia Tenggara lainnya. Penggunanya bulan lalu mencapai 410.000 orang, dan mereka mengklaim memiliki 10.000 vendor.
Semoga Bermanfaat!